Belajar Visioner dari The Golden Age of Islam

Islamedia – The golden age of Islam, atau masa keemasan Islam, menawarkan banyak pelajaran bagi generasi Islam saat ini, seperti yang dipaparkan oleh Akmal Sjafril, M.Pd.I., dalam kuliah Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Jakarta pada Rabu, (01/03/17) lalu, di Aula INSISTS, Jl. Kalibata Utara II No. 84, Jakarta.

Kejayaan ilmu pengetahuan umat Islam adalah akibat dari keberadaan Al-Qur’an. Setiap ayatnya adalah bacaan ilmiah yang terus ditelaah dari berbagai sisi sehingga semakin menambah pemahaman bagi umat Islam, bahkan hingga kini. Menurut Akmal, Al-Qur’an praktis telah mengakhiri era jahiliyyah.

Ada masa ketika Andalusia, yang saat itu dikuasai oleh Islam, menjadi mercusuar ilmu pengetahuan dunia, sampai-sampai beredar adagium ‘belum belajar jika tidak ke Andalusia’,” demikian ayah satu anak itu menjelaskan.

Lebih lanjut, Akmal menjelaskan betapa Islam sangat erat kaitannya dengan ilmu. “Tidak seperti mereka yang diluar Islam, Tuhan dalam agama Islam ‘ingin dikenal’ melalui sains, karena sains itulah yang mengungkap kebesaran Allah di alam semesta ini. Islam erat kaitannya dengan ilmu,” ujarnya.

Berbagai lini pendidikan Islam telah banyak memberi kontribusi, Nizam al-Mulk yang saat itu adalah sahabat dari Imam Ghazali membangun banyak madrasah di seluruh wilayah kekuasaan Islam hingga tidak ada satupun desa yang tidak ada madrasah. Selain itu saat Shalahuddin al-Ayyubi berkuasa tercatat Ia membangun lima perguruan tinggi. Terlebih, pada tahun 1500, terdapat 150 madrasah hanya di satu kota, Damaskus.

Bahkan dalam satu waktu terdapat 73 Perguruan Tinggi di Damaskus, 24 di Aleppo, 41 di al-Quds, 40 di Baghdad,” jelasnya.

Dalam bidang engineering, Islam terpaut 900 tahun lebih dahulu mengenalnya, ketika Jabir bin Hayyan mampu membuat tinta yang telihat dalam gelap, dan pada 953 M al-Muizz telah menciptakan pena. Contoh lain adalah saat anak-anak Musa bin Syakir mampu membuat air mancur dengan pola pancurannya yang dapat berubah secara otomatis.

Di dunia kesehatan, Islam mengenal sabun 700 tahun lebih awal dari Eropa, bahkan kata “sabun” sendiri berasal dari Bahasa Arab “Shabun”. Tidak ketinggalan Khalifah al-Walid pada 706 M membangun rumah sakit di Damaskus, demikian pula Harun al-Rasyid juga membangun di Baghdad.

Semua kejayaan Islam tidak lepas dari konsep peradaban ilmu yang kita miliki. Kita butuh ilmu untuk mengenali Islam. Dari penjelasan Al-Qur’an ketika menjelaskan kategori ‘ulul albab’ dapat kita simpulkan bahwa semakin kita berilmu maka akan semakin mengenali Islam,” papar pria pendiri #IndonesiaTanpaJIL (ITJ) ini.

Masa keemasan Islam ini banyak mengajari kita untuk memiliki visi ke depan. Al-Kindi telah membuat karya mengenai polusi udara, padahal kita pasti berfikir ‘Ada polusi udara seperti apa di jaman itu?’ Tapi beliau memiliki visi yang jauh ke depan, sehingga mau menanggulangi masalah itu. Tanpa visi, tak ada kemajuan yang bisa dihasilkan,” pungkasnya. [islamedia/alfan/abe]

Facebook Comments