Beginilah Konsistennya Sikap Tegas Erdogan Terhadap Rezim Kudeta As-Sisi

Presiden Turki, Rajab Thayib Erdogan.

Islamedia – Erdogan telah menunjukkan sikap konsistennya terhadap persoalan Mesir. “Sungguh mustahil bagi kita yang meyakini demokrasi untuk menerima bentuk kudeta semacam itu,” kata Erdogan pada Mei 2015 lalu. Kini Presiden Turki yang populer di dunia Islam itu, kembali menunjukkan konsistensinya.

Presiden Turki Rajab Thayib Erdogan pada hari Ahad (8/2/2016) kemarin, menyatakan dengan tegas, bahwa dirinya tidak akan mau melakukan pertemuan dengan Presiden Mesir Abdel Fattah As-Sisi.  Demikian seperti dilansir laman Turki Todayszaman.

Erdogan tetap tidak akan mau menemui Sisi kecuali pemimpin rezim kudeta Mesir itu membatalkan hukuman mati yang dijatuhkan kepada Presiden Mesir terpilih Mohamed Morsi.

Kendati begitu, Erdogan menjelaskan bahwa pihaknya menyetujui upaya untuk menjalin hubungan dengan rakyat Mesir.

“Sikap saya jelas, saya tidak akan bertemu Sisi, kecuali ia menghapuskan hukuman mati terhadap presiden Mesir yang sah Mohamed Morsi dan para sejawatnya,” kata Erdogan kepada para wartawan yang menyertainya di dalam dalam perjalanan pulang dari lawatan luar negeri ke Amerika Latin.

“Tetapi saya tidak pernah menolak untuk melanjutkan hubungan dengan rakyat Mesir, dan menteri-menteri mereka dapat bertemu dengan jajaran menteri kita,” tambah Erdogan. Ia juga memperkenankan Perdana Menteri Turki untuk bertemu As-Sisi.

Sikap konsisten Erdogan
Pada tahun 2013, Erdogan mengecam intervensi militer yang melakukan kudeta menggulingkan presiden terpilih Mohamed Mursi. Mesir kemudian mengusir Dubes Turki. Atas langkah rezim kudeta itu, Turki pun merespon dengan langkah serupa.

Sikap tegas Erdogan itu tetap bertahan ketika pada tahun 2014 ia menyebut As-Sisi sebagai “tiran”.

Tahun berganti, dalam pernyataan pers bersama Kepala Dewan Kepresidenan Bosnia Mladen Ivanic di Sarajevo pada Mei 2015, Erdogan tetap bersikukuh memegang sikapnya.

“Saya telah secara konsisten mengungkapkan di berbagai forum internasional bahwa saya tidak menerima Sisi sebagai presiden Mesir. hari ini, saya juga mengatakan hal yang sama. Bagi saya, presiden Mesir yang sah bukanlah Sisi, melainkan masih Mursi,” tandas Erdogan.

“Sungguh mustahil bagi kita yang meyakini demokrasi untuk menerima bentuk kudeta semacam itu,” tambah Erdogan, merujuk kepada kudeta militer pimpinan As-Sisi pada Juli 2013.

Kudeta militer itu sendiri berlanjut dengan pembantaian Rabia yang merenggut ribuan rakyat Mesir yang memperjuangkan kebebasan dan demokrasi. Kelaliman rezim kudeta terus berlanjut dari sejak saat itu hingga sekarang. (ismed/todayszaman/memo/newsweek)

Facebook Comments