Arab Saudi Membuka Kembali Kedutaan Besarnya di Negara Tetangga Iran Ini

Islamedia – Setelah 25 tahun mengalami kekosongan, akhirnya pada Jum’at (1/1/2016) pekan lalu, pihak Kerajaan Arab Saudi kembali membuka kedutaan besarnya di kota Baghdad, Iraq. Pembukaan kembali kedubes Arab Saudi itu, disebut sebagai pelapang jalan, menuju kerjasama lebih erat antara kedua negara, dalam mengatasi terorisme, demikian seperti dilaporkan saluran berita Al-Arabiya.

Kedutaan Besar Arab Saudi di Iraq itu sebelumnya ditutup pada tahun 1990 setelah Irak menginvasi Kuwait. Menurut Dubes Arab Saudi yang baru untuk Iraq, Thamer Al-Sabhan, dengan dibukanya kembali kedubes tersebut akan memungkinkan kedua negara bekerjasama dalam bidang keamanan dan perang melawan terorisme.

Cairnya hubungan Arab Saudi-Iraq yang pernah membeku itu, diperkirakan dapat membantu memperkuat aliansi kawasan, dalam melawan ISIS yang menguasai wilayah Irak dan Suriah.

Perjalanan normalisasi hubungan Arab Saudi – Iraq sendiri sudah berjalan di antaranya dengan penunjukan dubes non-residen pada 2012 silam. Tetapi, seperti dilaporkan Asharq Al-Awsat (13/09/2015) lalu, ketegangan kedua negara tetap terjadi ketika Iraq di bawah perdana menteri penganut agama Syi’ah berhaluan keras, Nuri Al-Maliki, dari 2006 hingga 2014.

Melalui kebijakannya diskriminatifnya, seperti dipaparkan akademisi pengamat Timur Tengah Juan Cole, Nuri Al-Maliki berhasil menyusutkan populasi warga Sunni di kota Baghdad, mempersulit aliran listrik ke kota-kota Sunni, sampai mencap wakil perdana menteri dari kalangan Sunni, Tareq Hashimi, sebagai teroris. Nuri Al-Maliki juga disebut sebagai sosok yang bertanggung jawab hingga kota Mosul jatuh ke tangan ISIS.

Menanggapi normalisasi Iraq dengan Arab Saudi, sejumlah sumber menyampaikan, bahwa lingkaran politik di Iraq memberikan reaksi “positif”.

Pembukaan Kedubes Arab Saudi di Iraq itu juga akan segera disusul dengan pembukaan konsulat di kota Erbil, ibukota wilayah otonom Iraq, Kurdistan. Kursi konsulat tersebut dikabarkan akan diisi oleh mantan anggota misi diplomatik Arab Saudi di Suriah, Abdul Moneim Al-Mahmoud. (ismed/iina/awsaat)

Facebook Comments