Anis Matta : Hari Santri

anis-matta-hari-santri

Islamedia – Alhamdulillah, 22 Oktober 2016 kita memperingati Hari Santri, sebagai salah satu cara memperkuat semangat kebangsaan kita.

Pemilihan tanggal 22 Oktober dipilih sebagai Hari Santri karena peristiwa bersejarah Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari tahun 1945.

Resolusi tersebut menjadi salah satu semangat mempertahankan kemerdekaan yang baru saja diraih.

Resolusi itu membakar semangat arek-arek Suroboyo.. Pecah pertempuran tiga hari yang menewaskan Jenderal Wallaby.

Pertempuran terus berkobar sampai puncaknya 10 November yang kita peringati sebagai Hari Pahlawan. Dari Resolusi itu kita belajar tentang praksis keagamaan di wilayah sosial-politik.

Mbah Hasyim mengambil langkah berani di tengah situasi yang penuh ancaman. Pada saat yang sama, Mbah Hasyim menyadari peran strategis agama sebagi inspirasi perubahan sosial-politik.

Kini, kita melihat santri bukan sekadar identitas mereka yang pernah belajar di pesantren.

Santri telah menjadi cara dan pandangan hidup, yang percaya pada kemandirian, cinta ilmu pengetahuan, dan dakwah.

Para santri juga telah menghapus stereotipe sebagai “kaum sarungan” yang tertutup pada kemajuan zaman.

Kini, kita melihat para santri malah menjadi pelopor keterbukaan dan kemodernan.

Sebagai santri, saya melihat potensi perubahan sosial yang bisa digerakkan dengan tawaran nilai-nilai baru.

Agama, keindonesiaan, dan kemodernan adalah tiga pilar kemajuan bangsa Indonesia. Kaum santri telah dan akan terus berkontribusi menguatkan pilar-pilar itu.

Manusia Indonesia yang makin saleh, cerdas, sejahtera, dan sejajar sebagai warga dunia adalah cita-cita perjuangan para santri. Kobarkan semangat Indonesia!

Ditulis oleh Muhammad Anis Matta
Santri Pesantren “Darul Arqam” Gombara, Sulawesi Selatan (1980 – 1986).