Akmal Sjafril: Jangan Mengalah Dalam Peperangan Pemikiran

img_9429

Islamedia – Salah satu sifat perang adalah ia bersifat urgent, karena itu kita tidak bisa menghindarinya. Justru harus kita hadapi dengan penuh kesadaran, dengan perencanaan matang, dan harus bertujuan menang,” papar Akmal Sjafril, S.T., M.Pd.I., ketika menyampaikan kuliah “Ghazwul Fikri” Sekolah Pemikiran Islam (SPI) dalam program khusus untuk para pengurus dan relawan Adara Relief International, Kamis (6/10) di Kantor Adara di bilangan Warung Jati, Jakarta Selatan.

Karena kurangnya bekal, seringkali kita hanya menjadi penonton sebuah peperangan, atau bahkan menjadi korban dari peperangan itu. “Menyiapkan bekal terbaik, termasuk ilmu, adalah sebuah keniscayaan bagi setiap muslim, terlebih seorang aktivis dakwah. Hal ini juga berlaku bagi perang non-fisik, yaitu perang pemikiran,” ujar Akmal lagi.

Penggagas Komunitas #IndonesiaTanpaJIL (ITJ) yang sangat aktif mememerangi pemikiran liberal lewat media sosial dan bukunya ini mengingatkan bahwa perang pemikiran niscaya ditemui oleh setiap aktivis Islam dalam setiap levelnya. Karena itu, setiap aktivis Islam hendaklah menyadari pentingnya pemikiran (fikroh) dalam menentukan suatu perbuatan, sebagaimana posisi niat dalam beramal.

Kang Akmal, demikian beliau sering disapa, menyebutkan asal mula munculnya perang pemikiran adalah, “Resolusi Iblis setelah diusir dari surga, sebagaimana Firman Allah dalam Al-Quran surat Al-Hijr ayat 39, di mana Iblis berjanji akan menjadikan manusia memandang baik kebatilan dan akan menyesatkan mereka.”

Karena itulah, perlu disadari bahwa serangan iblis ini mewujud dalam serangan musuh-musuh Islam ke dalam barisan mukminin. “Mereka terdiri dari kaum misionaris, yahudi, musyrikin, atheis, dan kaum munafikin. Mereka menyusup atau terang-terangan muncul di semua sendi kehidupan, terutama melalui media massa, pendidikan, yang sejatinya tidak bebas nilai, dan sosial budaya,” tandasnya.

Program khusus SPI bagi pengurus dan relawan Adara Relief International ini diselenggarakan untuk menyamakan persepsi para peserta bahwa bekerja untuk Al-Aqsha dan kemerdekaan negeri Palestina merupakan salah satu bukti nyata bahwa Adara telah turut serta dengan sadar dalam perang pemikiran yang melibatkan musuh-musuh Islam, terutama kaum zionis. [sri/islamedia/abe]