Ahok, Ketua RT, dan Robeknya Kain Kebangsaan Kita

Ahok, Ketua RT, dan Robeknya Kain Kebangsaan KitaPenulis Bersama Ketua HKBP Swondo Hutasoit

Islamedia –┬áPak Ahok…lihatlah foto dibawah ini. Peristiwanya terjadi tepat tiga pekan setelah Idul Fitri. Malam itu, dalam Halal Bi Halal yang kami selenggarakan di RT 007 RW 006 Grand Permata Mustika Jaya Kota Bekasi, saya sebagai Ketua RT memberikan kejutan kepada Swondo Hutasoit.

Pak Swondo adalah Ketua HKBP di perumahan kami. Sekadar informasi, di RT kami begitu majemuk. Ada pemeluk Nasrani (Katholik, Protestan). Ada pula habib yang memiliki jamaah “militan”. Dan yang paling penting untuk diketahui, letak perumahan kami tepat di lokasi Tragedi Ciketing Asem pada 2011 lalu yang membetot publik karena jatuhnya korban.

Pak Ahok…saya sengaja meminta Anda melihat foto tersebut dan mengajak untuk mengetahui secara singkat anatomi warga dan geografi di perumahan tempat saya tinggal. Semata-mata agar Anda sadar betapa tak mudahnya merawat dan menjaga keharmonisan dalam keberagaman di tingkat terendah.

Pak Ahok…pemberian bingkisan tersebut sengaja tak saya informasikan sebelumnya kepada panitia. Satu jam sebelum acara, saya pergi ke tukang buah dan memesan parcel yang berisikan anggur, pisang, jeruk hingga belimbing. Saya rogoh kocek sendiri. Tak banyak jumlahnya. Hanya Rp 110.000.

Lalu di awal acara saat saya memberikan kata sambutan, saya meminta Pak Swondo untuk maju dan menerima bingkisan.

Saya merasa perlu memberikan hadiah karena Pak Swondo dan kawan-kawan telah menjaga lingkungan saat kami sibul merayakan Idul Fitri.

Saya betul-betul tidak menyangka akan dapat bingkisan ini,” ungkap Pak Swondo ketika memberikan sambutan.

Pak Ahok…di luar sana, begitu banyak ikhtiar masyarakat di level terendah yang berjuang menjahit kain kebangsaan kita. Termasuk dari pemeluk agama Anda. Perjuangan yang sungguh tak mudah. Siang malam kami harus memastikan kain kebangsaan kita tak tercabik-cabik.

Dalam rapat pengurus misalnya, saya selalu menekankan pentingnya menjaga keharmonisan. Saya katakan, kita harus menghormati kemajemukan baik dalam agama, suku hingga pilihan politik.

Hargai dan hormati jika ada di antara kita yang berbeda agama. Juga mereka yang menjadi pendukung Jokowi, Prabowo. Atau bahkan kader PDIP hingga PKS,” begitu ucap saya dalam rapat pengurus.

Karena saya sadar, keberagaman adalah keniscayaan. Untuk itu pula, saya tak ragu menjadikan beberapa warga yang Nasrani duduk dalam kepengurusan. Pak Swondo sendiri saya tempatkan sebagai Ketua Dana Sosial. Ada pula Fidelis yang saya jadikan sebagai salah satu bendahara.

Tapi apa yang kami lakukan di lingkungan menjadi jauh lebih berat saat Anda begitu mudahnya menista Al Quran. Dan saya sebagai muslim sangat jelas posisinya: marah dan mendesak Anda diproses secara hukum.

Posisi ini pun akan saya ambil disaat ada saudara saya yang muslim menghina Kitab Suci agama lain. Orang tersebut harus juga diproses sesuai hukum yang berlaku di negeri ini.

Pada akhirnya, kain kebangsaan kita hanya akan tetap utuh jika kita menyadari posisi dan memahami nilai-nilai fundamental agama yang kita anut.

Dan Pak Ahok…orang-orang seperti Anda hanya akan menjadi ancaman terbesar robeknya kain kebangsaan kita.

Penulis : Erwyn Kurniawan
FB.com/erwyn.kurniawan

Facebook Comments